
Puasa intermiten atau intermittent fasting kini semakin populer sebagai metode penurunan berat badan. Namun, manfaatnya ternyata tidak hanya soal angka di timbangan. Penelitian terbaru dari tim peneliti Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jawa Timur dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menemukan bahwa pola puasa tertentu dapat membantu menurunkan peradangan pada perempuan muda dengan obesitas.
Obesitas bukan hanya masalah berat badan berlebih, tetapi juga berkaitan dengan kondisi peradangan kronis tingkat rendah dalam tubuh. Pada individu dengan obesitas, tubuh cenderung menghasilkan lebih banyak zat proinflamasi seperti Interferon-gamma (IFN-γ), yaitu molekul yang dapat memicu gangguan sistem imun dan meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik. Di sisi lain, tubuh juga memiliki zat antiinflamasi seperti interleukin-10 (IL-10) yang berfungsi meredam peradangan. Ketidakseimbangan kedua zat ini menjadi salah satu alasan mengapa obesitas dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Penelitian ini menguji dua jenis pola puasa intermiten selama 20 hari, yaitu Time-Restricted Eating (TRE) dan Alternate-Day Modified Fasting (ADMF). Pada metode TRE, peserta hanya diperbolehkan makan dalam jendela waktu 6 jam setiap hari, yaitu pukul 14.00–20.00, dan berpuasa selama 18 jam. Sedangkan pada metode ADMF, peserta menjalani puasa selang-seling, yaitu satu hari makan normal dan hari berikutnya hanya mengonsumsi sekitar 25% kebutuhan kalori harian. Peserta penelitian adalah perempuan muda usia 18–25 tahun dengan obesitas.
Hasil penelitian ini memperlihatkan beberapa temuan yang menarik. Kelompok yang menjalani TRE mengalami penurunan signifikan kadar IFN-γ, yang berarti terjadi penurunan proses peradangan di dalam tubuh. Sebaliknya, kelompok ADMF tidak menunjukkan perubahan bermakna pada penanda inflamasi tersebut. Kadar IL-10 pada seluruh kelompok juga tidak mengalami perubahan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat TRE kemungkinan lebih banyak bekerja dengan cara menekan zat proinflamasi dibandingkan meningkatkan zat antiinflamasi.
Mengapa TRE tampak lebih efektif? Salah satu alasannya diduga karena pola makan yang lebih teratur membantu tubuh menyesuaikan ritme biologis atau circadian rhythm. Saat tubuh memiliki jadwal makan dan puasa yang konsisten, metabolisme menjadi lebih stabil, terjadi peningkatan penggunaan lemak sebagai sumber energi, serta membantu menekan produksi sitokin proinflamasi. Selain itu, puasa dalam jangka tertentu juga dapat mengaktifkan jalur metabolik penting seperti AMP-activated protein kinase (AMPK) dan Sirtuin 1 (SIRT1) yang berperan dalam menjaga keseimbangan metabolisme dan sistem imun.
Menariknya, meskipun terjadi penurunan peradangan, penelitian ini tidak menemukan perubahan signifikan pada indeks massa tubuh (IMT), persentase lemak tubuh, maupun lemak visceral setelah 20 hari intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat puasa intermiten dapat muncul lebih awal pada tingkat metabolik dan sistem imun, bahkan sebelum perubahan fisik tampak jelas.
Studi ini memberikan gambaran awal bahwa cara dan waktu makan ternyata dapat memengaruhi kondisi peradangan dalam tubuh. Bagi perempuan muda dengan obesitas, metode TRE berpotensi menjadi pilihan gaya hidup sehat yang membantu menjaga keseimbangan sistem imun dan menurunkan risiko penyakit akibat inflamasi kronis. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa penelitian lanjutan dengan durasi lebih panjang dan jumlah sampel lebih besar masih diperlukan untuk memahami mekanisme kerja puasa intermiten secara lebih mendalam.
Artikel ditulis oleh: dr. Chy’as Diuranil Astrid Permataputri, M.Biomed
Dosen Fakultas Kedokteran UPN ”Veteran” Jawa Timur
Artikel lengkap bisa dilihat di https://www.mdpi.com/2673-5601/5/3/39
Sitasi Artikel: Permataputri, C. D. A., Rejeki, P. S., Argarini, R., Halim, S., Purnomo, S. P., & Rachmayanti, D. A. (2025). The Effects of Time-Restricted Eating and Alternate-Day Modified Fasting on Interferon-γ and Interleukin-10 Levels in Young Asian Women with Obesity: A Quasi-Experimental Study. Immuno, 5(3), 39. https://doi.org/10.3390/immuno5030039